Senin, 10 Januari 2011

Kebahagiaan

Bagaimanakah kebahagiaan yg sempurna itu? Yaitu kebahagiaan yg dpt dirasakan oleh diri kita sendiri dan orang lain. Kebahagiaan yg tidak menyembunyikan kesedihan.
Tapi, kebahagiaan seperti itu jarang kita rasakan. Harus ada salah satu yg perlu kita korbankan atau kita pilih. Kebahagiaan sendiri atau orang lain.
Seperti halnya dalam kehidupan percintaan, apabila kekasih kita telah berpaling dan menemukan cinta yg lain. Apa yg harus kita lakukan? Mempertahankan kekasih kita demi kebahagiaan sendiri atau membiarkannya pergi? Seperti sebuah pilihan yg sulitkah?
Sama seperti kebahagiaan yg dipilih oleh banyak para orang tua untuk anaknya. Sebenarnya kebahagiaan itu untuk siapakah? Orang tua atau anak? Orang tua akan selalu mendorong anaknya untuk cepat-cepat dapat menyelesaikan sekolah, bekerja dan kemudian menikah demi kebahagiaan anaknya. Padahal semua pilihan sekolah, pekerjaan atau jodoh dipilih oleh orang tua. Dengan demikian, kebahagiaan ituuntuk siapa? Anak ataukah untuk orang tua itu sendiri? Apakah anak bahagia menjalankan kehidupannya sesuai dengan pilihan orang tuanya? Dan bagaimanakah jika sebaliknya, bahagiakah orang tua jika anaknya menjalankan kehidupannya sesuai dengan pilihannya yg bertentangan dengan pilihan mereka?
Kebahagiaan tak ada yg sempurna. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan untuk memuaskan ego. Kebahagiaan adalah cara pandang untuk dapat melihat diri sendiri dan orang lain.

Selasa, 28 Desember 2010

ada dalam bisa

Ada luka yg terlalu dalam
Ada perih yg terlalu pedih
Ada sepi yg terlalu sunyi
Dalam diam aku teriak
Dalam senyum aku menangis
Bisakah semua diperbaiki
Bisakah aku berbagi
Bisakah aku membiarkan semua tahu
Ada jiwa yg tak termiliki
Ada hati yg telah membatu

because you rebuke me

"I am hurt because you do not love me and also, alas, I am terrified of you because you constantly rebuke me, Sire." ~사도 μ„Έμž

Aku tak ingin berakhir seperti Putra Mahkota Sado, yg meninggal karena ayahnya sendiri. Menimbulkan penyesalan pada ayah dan anak Putra Mahkota. Putra Mahkota Sado selama hidupnya hidup dalam ketakutan. Takut untuk tak dapat memenuhi keinginan ayahnya, takut untuk mengungkapkan cintanya pada orang tuanya, takut untuk dekat dengan keluarganya sendiri. Ketakutan yg menyebabkannya terus menerus menahan kesedihan yg akhirnya membuat dia gila, menjadikannya seorang pembunuh dan pimpinan yg gila. Dan semua itu, akibat dari ketakutan-ketakutannya terhadap ayahnya yg selalu memarahinya.
Dan aku tak ingin seperti itu, aku tak ingin hubunganku dengan orang tuaku membuatku seperti itu, karena ketakutanku pada mereka. Dengan menekan semua perasaan dan emosiku, aku tak ingin menjadi seseorang seperti Sado Seja.